SULUT.SIN.CO.ID – Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa penguatan kerukunan umat beragama perlu dibangun melalui pemahaman dan pengamalan ajaran agama masing-masing. Menurutnya, ketaatan beragama dan kehidupan yang harmonis tidak perlu dipertentangkan, melainkan dapat saling memperkuat dalam masyarakat Indonesia yang beragam.
Wamenag menjelaskan, pendekatan dalam membangun kerukunan umat beragama kini lebih menekankan pentingnya setiap pemeluk agama untuk semakin memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Ia meyakini bahwa ajaran agama dapat menjadi landasan bagi umat untuk membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
“Kalau ingin kerukunan umat beragama berjalan dengan baik, maka masing-masing penganut agama, mengutip pendapat Pak Menteri, harus semakin dekat dengan agamanya. Jadi, semakin mereka menaati agamanya, semakin bisa diwujudkan kerukunan beragama,” ujar Wamenag dalam Konferensi Pers Capaian Dua Tahun Kemenag mengawal Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan keyakinan Presiden Prabowo Subianto bahwa agama-agama yang diakui keberadaannya di Indonesia memiliki ajaran yang mendorong kehidupan harmonis dalam masyarakat yang berbhinneka.
“Karena Presiden berkeyakinan semua agama yang ada di tanah air ini, memiliki ajaran yang sama tentang keberagaman. Bahwa semua penganutnya diwajibkan membangun harmoni dalam kehidupan yang berbhinneka,” ungkapnya.
Penguatan kerukunan tersebut turut tercermin dalam capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB). Berdasarkan data Kementerian Agama, IKUB meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025 atau naik 1,42 poin.
Capaian IKUB 2025 juga melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk tahun 2025 sebesar 76,77 dan semakin mendekati target akhir periode pada 2029 sebesar 78,25.
Selain peningkatan kerukunan, Kemenag juga mencatat kenaikan Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB). Pada 2025, indeks tersebut mencapai 84,20, meningkat 0,36 poin dibandingkan capaian 2024 sebesar 83,84.
Peningkatan kedua indeks tersebut menjadi bagian dari capaian Kemenag dalam memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat, baik melalui pengamalan nilai-nilai agama maupun upaya menjaga kerukunan di tengah keberagaman.
Selain itu, tiga survei Poltracking Indonesia secara konsisten menempatkan upaya menjaga kerukunan umat beragama pada urutan pertama dalam evaluasi keberhasilan kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Hasilnya tercatat sebesar 77,8 persen pada Maret 2026, meningkat menjadi 80 persen pada Mei, dan berada pada angka 72,5 persen pada Agustus 2026.
Wamenag menilai capaian tersebut menunjukkan hasil positif dari upaya penguatan kehidupan beragama dan kerukunan di Indonesia. “Ternyata hasilnya mendapat persentase paling tinggi sepanjang sejarah kehidupan beragama di Indonesia,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wamenag juga menyoroti perhatian Presiden Prabowo terhadap penyelenggaraan kehidupan keagamaan, termasuk penetapan hari-hari besar keagamaan. Ia menceritakan bahwa Presiden secara langsung menanyakan waktu pelaksanaan ibadah puasa dan Hari Raya Idulfitri sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan umat beragama.
“Beliau menelepon langsung. Kapan puasa, kapan lebaran. Itu saya kira sebuah perhatian sangat serius terhadap kehidupan umat beragama,” kata Wamenag.
Penguatan pemahaman keagamaan dan pengamalan nilai-nilai harmoni diharapkan terus menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam menjaga kerukunan serta memperkuat kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.(***)

